Tag: Refleksi

Refleksi

Ko dan Sa Pu Tanah Papua, Tidak Sedang Dibangun, Ia Sedang Dijajah dan Kuasai Ulang

Penulis : Anez Giay Tanah Papua bukan sekadar wilayah yang “tertinggal” seperti narasi “stigma” resmi negara. Ia adalah ruang yang terus-menerus diproduksi sebagai zona konflik untuk menopang satu kepentingan utama, ekstraksi sumber daya alam. Di balik jargon pembangunan dan integrasi nasional, terdapat relasi kuasa yang bekerja secara sistematis militerisasi untuk mengamankan kapital, dan kapital untuk […]

Poster Diskusi Laolao mengenai penindasan perempuan
Hak Perempuan Refleksi

Kalo Rebecca Membaca Poster Diskusi Sejarah Penindasan Perempuan

Oleh Anlao. Sa sedang membuka Facebook baru ketemu poster yang diunggah oleh Pimred Laolao tentang diskusi “Sejarah Penindasan Perempuan” di Sorong. De juga menulis panjang, menjelaskan bahwa keberatan sebagian perempuan terhadap narasumber laki-laki adalah keliru. De menegaskan bahwa hanya Musell Muller yang menjadi narasumber, sementara Ukam Maran sekadar mengisi panggung mini. Ia menyebut ada konsolidasi […]

Refleksi

Pov : “Ngelabrak” The Devil Advocate

Oleh : Victoria Di suatu sore yang sangat tenang dan teduh, saya sedang mengistirahatkan badan yang lelah dari  bekerja seharian dan tentu saja saya tidak melupakan ponsel saya untuk menemani istirahat saya. Ketika sedang asik menggulir-gulir konten video pendek di platform Tiktok, saya bertemu dengan konten yang memperlihatkan wajah seorang pria yang dipenuhi dengan tulisan […]

Refleksi

Mati Sebagai Perempuan Papua : Ketika Tubuh Jadi Medan Kolonial

Oleh : Gispa Ferninanda Saya masih ingat waktu pertama kali membaca Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2024. Di tengah deretan data kekerasan seksual, fisik, dan domestik yang menghantam perempuan di seluruh Indonesia, mata saya berhenti di satu angka yang ganjil: sembilan kasus kekerasan dari Papua dalam satu tahun. Sembilan. Di sebuah wilayah yang selama puluhan tahun […]

Lingkungan & Hak Adat

Ibu Bumi Papua: Merawat Benih Menyembuhkan Luka

Oleh: Risna Hasanudin Bagi perempuan Papua, merawat benih bagian dari jalan panjang penyembuhan luka. Ini di alami oleh mama Awin Keti. Beliau adalah Penyintas Biak Berdarah. Pengalaman menyakitkan yang di alami oleh Beliau, dituangkan dalam sebuah praktek menanam bahan pangan, salah satunya adalah benih padi ladang, juga jewawut. Bagi beliau menanam adalah proses penyembuhan, dimana […]

Budaya & Tradisi Refleksi

Refleksi Perempuan Adat di Papua : Hutan, Tanah, dan Perlawanan

Oleh : Sophia Bano & Godlief Muabuay Tanggal 9 Agustus telah kita lewati, namun refleksi kritis tentang segala yang terjadi di Kampung-kampung di Tanah Papua masih perlu terus suarakan. Pada 8 Agustus 2025 kami menerima tulisan dari Sophia Bano mengenai refleksinya dalam hari masyarakat adat. Kami juga menerima tulisan analisis tentang Perempuan Adat Papua. Atas […]

Refleksi

Refleksi Kerinduan untuk Persatuan Mahasiswa Merauke dan Kesadaran Kritis

Oleh : Nare Kelvin Obrolan hari ini lebih dari yang biasanya  kami lakukan di Honai kami. Saya bertemu dengan beberapa mahasiswa asal Merauke. Mereka berencana melakukan pertemuan untuk pembentukan organisasi paguyuban pertama di Jakarta dengan nama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Merauke (IPMAMER). Kehadiran organisasi ini merupakan satu langkah baik untuk merangkul mahasiswa dan pelajar dari […]

Refleksi

Rumah Yang Tidak Aman

“Kata orang cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, namun mengapa cinta itu tak saya dapatkan? Ayah, waktu kau mengatakan bahwa saya adalah anak yang tidak berguna, saya merasa kau merendahkan diri saya. Saya tidak pernah berhenti mencintaimu, tapi saya mulai membenci diri saya sendiri karena saya tidak bisa menjadi anak yang berguna bagimu.” Penulis : […]

Tentang Aneta

Aneta lahir sebagai respons atas kekosongan itu. Kami adalah media alternatif yang hadir untuk mendokumentasikan, menyuarakan, dan memperjuangkan pengalaman serta pengetahuan perempuan Papua dan kelompok marjinal. 

Kontak: +62 …

Visi

“Aneta menjadi ruang berpikir, berlawan, dan bertutur bagi perempuan dan kelompok marjinal untuk masa depan yang adil, setara, dan tanpa diskriminasi.”

Aneta @2025