Penulis : Yokbeth Fele
“Banyak pejuang yang berjuang dimasa jayanya, ketika berpulang itu tidak ada yang dokumentasikan secara baik sehingga datang dan pergi begitu saja” – Markus Haluk, Sekertaris Eksekutif ULMWP
Leoni Tanggahma, Perempuan asal Fakfak yang lahir pada 30 Mey 1974 di Den Haag Belanda. Leoni adalah putri kedua dari Ben Tanggahma dan Sofie Komber. Leoni memiliki kakak Perempuan bernama Mbiko Tanggahma. Mereka hanya dua bersaudara. Ayah Leoni, Ben Tanggahma pernah bekerja di Dakar, Senegal, dimana ayahnya menjabat sebagai Ketua Perwakilan OPM di Senegal. Kantor Perwakilan OPM di Senegal merupakan kantor pertama yang dibuka di Benua Afrika. Kantor ini dibuka tepat pada tahun kelahiran Leoni, namun beberapa tahun kemudian kantor ini ditutup.
Leoni besar di Belanda. Ia menyelesaikan studinya dengan mengambil jurusan Pendidikan Sastra Indonesia di Universitas Leiden, Belanda. Dia juga bekerja di International Court of Justice atau Mahkamah Internasional, sebuah badan kehakiman utama Perserikatan Bangsa-Bangsa. Leoni membawahi sekitar 15 staf.
Leoni merupakan diplomat perempuan Papua yang intens membangun kampanye isu HAM Papua di Komisi Tinggi HAM PBB. Ia menjadi salah satu aktor penting yang mendorong kampanye isu HAM Papua hingga menjadi konsumsi internasional.
Ditahun 1998 sebagai perwakilan dari Papua, Leoni hadir dalam Konferesni Internasional tentang “Penerapan Hak Penentuan Nasib Sendiri sebagai Kontribusi pada Pencegahan Konflik” yang diselenggarakan di Barcelona pada 21-27 November 1998, dimana dalam konferensi ini, Ramos Horta Pejuang Kemerdekaan Timor Leste yang menerima Nobel Perdamaian 96 juga turut hadir didalamnya.
Yuli Languwoyo, aktivis HAM, yang menjadi salah satu orang terdekat Leoni, baru mulai mendengar nama Leoni saat Jaringan Damai Papua (JDP) mendorong dialog Jakarta-Papua. Nama Leoni disebut-sebut oleh Alm. Pater Neles Tebay sebagai Perempuan Papua yang pintar, yang akan membantu JDP dalam banyak hal terutama ditingkat internasional. Saat itu, Yuli baru 1 tahun bekerja di SKPKC Fransiskan Papua (saat ini berganti nama menjadi JPIC OFM Papua)
Ditahun 2015 Yuli melakukan perjalanan ke Belgia. Dari Belgia, Yuli melanjutkan perjalanan menggunakan kereta dari Brussel ke salah satu stasiun di Belanda. Ia mendapat kabar bahwa ia akan tinggal bersama salah satu keluarga Papua dan akan dijemput oleh salah satu Perempuan Papua yang sangat penting.
“Hallo adikku Yuli, senang sekali bertemu orang dari negeri sendiri. Orang-orang yang kerja ditanah air” sapa Leoni pada saat ia menjemput Leoni. Mereka berpelukan. Ini merupakan pertemuan pertama Yuli dan Leoni. Yuli yang sebelumnya membayangkan bagaimana ia harus berkomunikasi dengan Leoni, dibuat legah dengan sapaan Leoni. Rupanya selain menguasai 5 bahasa, yaitu perancis, belanda, Inggirs, Jerman dan Spanyol, Leoni juga bisa dengan lancar berbahasa Indonesia.
“Dong dirumah itu punya bahasa sehari-hari yang jadi bahasa utama dirumah itu bahasa perancis. Jadi didalam rumah semua bicara pakai bahasa perancis, termaksud kaka Leoni punya anak. semua berbicara menggunakan bahasa perancis. Dong punya Bahasa kedua itu bahasa Belanda karena dong domisili di Deenhark, Belanda. Baru bahasa ketiganya itu yang bahasa inggris. Mama dengan kaka Leoni yang bisa dengan bahasa Indonesia”. Ujar Yuli mengenang keluarga Leoni di Belanda.
Markus Haluk, Sekertaris Eksekutif ULMWP, mengungkapkan kekaguman yang sama pada sosok Leoni yang dikenalnya sejak tahun 2012 di Belanda. Sebelumnya Markus hanya mengenal Leoni dari cerita Jhon Rumbiak sebagai salah satu orang yang bekerja mengangkat masalah HAM di Eropa.
“Kami bertemu Leoni dibeberapa kesempatan di Thailand, waktu itu berhubungan dengan JDP. Kami bertemu di Bangkok Thailand pada 2013 dan di tahun 2016 kami bertemu kembali di Thailand sebagai ULMWP” ungkap Markus.
Leoni terlibat dalam membantu JDP untuk mengangkat persoalan Diaolog Jakarta-Papua dilevel Internasional. Dimulai pada Juli 2011 Konferensi Perdamaian Papua diadakan oleh JDP di Jayapura. Dimana dalam konferensi ini mewakili aspirasi masyarakat adat Papua, didalamnya tokoh adat, tokoh agama, Dewan Presidium Papua dan beberapa pihak terlibat dalam konferensi tersebut. Konfrensi ini juga menunjuk negosiator yang akan berdiaolog dengan pemerintah Indonesia. Mereka adalah Alm. John Otto Ondawame, Rex Rumakiek, Octovianus Motte, Benny Wenda dan Leoni Tanggahma. Nama kelima diaspora Papua ini sontak mengejutkan Pemerintah Indonesia dan menimbulkan respon ketidakpercayaan terhadap JDP dan berdampak pada rencana diaolog Papua-Jakarta.
Dalam melakukan diplomasi internasional Markus melihat bagaimana kemampuan berbahasa inggris Leoni mampu membuat segan musuhnya. “Uhh ngeri banget bahasa inggrisnya Mba Tanggahma ini. Dimana studinya? Hebat benar bahasanya” ungkap Delegasi Indonesia yang ditulis oleh Markus dalam tulisannya tentang Leoni berjudul “Engkau Yang Disegani Kawan dan Musuh” pada saat kematian Leoni.
Markus telah bekerja bersama Leoni melewati beberapa benuh, Asia, Pasifik hingga Eropa. Salah satu momen yang dikenangnya adalah lobi keanggotaan Papua oleh ULMWP untuk masuk dalam MSG (Melanesian Spearhead Group) ditahun 2015. Melalui Deklarasi Saralana pada 6 Desember 2014, maka ULMWP dibentuk sebagai wadah persatuan dari tiga pilar, yaitu Negara Federal Republik Papua Barat (NRFPB), Parlemen Nasional West Papua (PNWP), dan West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL). Leoni Tanggahma mewakili pilar WPNCL menjabat sebagai anggota eksekutif ULMWP. Ada juga Jacob Rumbiak dan Rex Rumakiek sebagai anggota eksekutif. Lalu Benny Wenda sebagai Juru Bicara dan Oktovianus Mote sebagai Sekjen. Mereka berlima dipilih dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) I ULMWP dan menjabat sejak tahun 2014-2017.
Rapat Kerja Perdana ULMWP dilakukan pada akhir Januari 2015 di Port Vila, Vanuatu. Rapat kerja ini akhirnya memutuskan bahwa loby diplomasi akan dimulai dari Melanesia. Masing-masing anggota eksekutif membagi tugas dan beban kerja. Leoni bertugas di Vanuatu, Rex Rumakiek di Kaledonia Baru, Benny Wenda di PNG, Jacob Rumbiak di Salomon dan Okto Mote di Fiji.
Pembagian tugas mereka lakukan dan terus bekerja dan berkordinasi hingga saatnya FMM MSG dilaksankan pada 25-26 Juni 2015. Banyak rakyat Papua yang telah mendukung keanggotaan Papua dalam MSG melalui petisi dan mendapatkan 55.555 tanda tangan.
Namun saat itu pimpinan ULMWP harus menelan kecewa karena sebelumnya mereka telah dikabarkan bahwa agenda Papua tidak masuk dalam MSG. Mereka kecewa dan mulai mengevaluasi kesalahan mereka, hingga keesokan paginya Jacob Rumbiak mendapat kabar dari Milner Tozaka, Menteri Luar Negeri Salomon bahwa ULMWP diberikan waktu 1 menit untuk berbicara dalam MSG. Saat itu Markus Haluk, Leoni Tanggahma, Benny Wenda, Okto Mote, Amatus Douw, Jacob Rumbiak, mereka hadir pada pertemuan FMM MSG di Honiara.
Leoni menyapa forum menggunakan bahasa perancis. “Kami datang mewakili West Papua, bangsa besar dari tanah besar yang hampir punah” tulis Markus. Sapaan dengan bahasa Perancis dengan pemilihan kata yang dalam membuat peserta FMM MSG merasa kagum pada sosok Leoni. Pekerjaan diplomasi akhirnya membawakan hasil, dimana ULMWP diterima sebagai observer dalam MSG.
“We did it adik, we did it” tulis Okto Mote mengenang Leoni. Mote adalah salah satu rekan Leoni. Kurang lebih 10 tahun lamanya Mote dan Leoni bekerja bersama dalam melakukan diplomasi di dunia internasional sejak mereka terpilih dalam Konferensi Perdamaian Papua hingga pada tahun 2014 mereka kembali bekerja dalam ULMWP untuk melakukan diplomasi dan lobi.
“Kita sebagai anggota eksekutif ULMWP meningkatkan tekanan dalam diplomasi internasional dengan menggalang dukungan berbagai negara. Adik adalah anggota paling setia yang selalu hadir dalam hampir semua pertemuan, yang ketika itu kita lakukan paling tidak sekali dalam setiap 4 bulan di berbagai belahan bumi” tulis Mote dalam unggahannya mengenang kepergian Leoni.
Enam hari sebelum kematian Leoni, ia menulis “La Patrie Ou La Mort, Nous Vaincrons” yang artinya “Tanah air atau Mati, Kita akan menang ”. tulis Leoni dalam postingan facebooknya.
Dan pada tanggal 7 Oktober 2022 di Den Hark Belanda, Leoni meninggal karena sakit jantung. Tidak ada yang mempercayai kepergiaannya termaksud Yuli Languwoyo, Markus Haluk dan Oktovianus Mote. Sebuah kursi dibangun dihalaman kantor ICJ dan diberi nama Leoni Tanggahma. Kursi ini untuk mengenang 20 Tahun Leoni bekerja digedung tersebut.

