
Oleh : Nare Kelvin
Obrolan hari ini lebih dari yang biasanya kami lakukan di Honai kami. Saya bertemu dengan beberapa mahasiswa asal Merauke. Mereka berencana melakukan pertemuan untuk pembentukan organisasi paguyuban pertama di Jakarta dengan nama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Merauke (IPMAMER). Kehadiran organisasi ini merupakan satu langkah baik untuk merangkul mahasiswa dan pelajar dari wilayah Papua Selatan mulai dari Merauke, Mappi, Asmat, Sampai Boven Digoel.
Obrolan berjalan lepas dalam suasana santai, tetapi topiknya berat. Bagaimana tidak wilayah Merauke adalah tujuan utama investor-investor asing yang dilindungi negara beserta aparaturnya. Obrolan kami seputar PSN, dampaknya terhadap masyarakat adat, hutan, sungai, sampai pada tren musik rap Papsel – Sebuah singkatan untuk Papua Selatan.
“Sa nih orang asli dan pemilik wilayah Marind yang sekarang jadi wilayah PSN. Bapa dari Marind, mama dari Muting” – Jelas salah satu mahasiswa.
Ada beberapa orang datang lalu pergi mendengarkan cerita sejenak. Ada juga satu kawan yang katanya sebelum berangkat ke perguruan tinggi pernah diancam akan diputus beasiswa jika kedapatan terlibat dengan organisasi atau aksi demonstrasi mahasiswa Papua.
Mereka bercerita bahwa pemutusan beasiswa oleh pemerintah adalah salah satu ancaman dan ketakutan terbesar mahasiswa merauke. Pemerintah bekerja sama dengan pihak militer untuk memantau setiap aktivitas mahasiswa. Bahkan ada satu kawan di antara mereka yang pernah diputus beasiswanya.
“Kami tidak pernah tahu dan mau mencari tahu. Tapi akhirnya sa bisa tau, dibalik itu semua ternyata ada kepentingan” kata kawan tadi dengan nada agak kesal, namun santai.
Merauke telah menjadi sasaran investor asing sejak program MIFEE (Merauke Integrated Food Esatate) dan dilanjutkan lagi dengan program pemerintah yang dikenal dengan Proyek Strategis Nasional (PSN). Jutaan hektar Tanah Adat suku setempat sudah dijadikan lahan perkebunan Tebu, sawit, dan sawah.
Masyarakat adat hidup di bawah kemiskinan dan terusir jauh dari hutan adat mereka. Mereka sudah tidak bisa berburu, meramu, dan memperoleh obat-obatan tradisional dan seterusnya. Hutan adat mereka sudah dikuasai investor-investor nasional dan multinasional milik negara-negara besar.
Bahkan menurut cerita dari kawan-kawan, setiap perusahaan yang masuk bukannya menyejahterakan masyarakat adat, tetapi justru menciptakan konflik horizontal antar suku, marga, sampai hubungan keluarga yang dulunya terawat kini lenyap. Kini masyarakat hidup saling curiga, penuh amarah, benci, dan ketakutan.
Para pejabat lokal lebih memihak kepada korporasi untuk mendapat sebagian dari hasil curian mereka. Salah satu contoh nyatanya hari ini mantan bupati Jhon Gluba Gebze yang menjadi bagian dari korporasi dan tidak memihak kepada rakyat.
Mereka juga ternyata korban dari bom waktu. Saat ditanya, menurut mereka bom waktu adalah kata lain dari memoria passionis para tetua mereka yang merasakan kejamnya militerisme di masa lalu. Sebagai orang tua pada umumnya, tidak mau anaknya mengalami hal yang sama oleh anak-anak mereka hari ini. Orang tua selalu berkata kepada mereka supaya fokus kuliah dan tidak boleh mencari tahu sejarah mereka, budaya, dan tidak boleh terlibat dalam kumpulan mahasiswa Papua dan organisasi.
“Sa mulai menyadari semua itu saat sa keluar dari Papua dan bertemu teman-teman sesama Papua dari berbagai kota. Ternyata papua, terutama merauke tidak baik-baik saja,” cerita salah satu mahasiswa kepada kami. Ia melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh orang tua dan pemerintah di Merauke terhadap mahasiswa.
Selanjutnya topik pembicaraan berganti lagi ke musik. Seperti yang kita tau anak-anak muda Merauke lebih dikenal dengan musik-musik bergenre rap yang selalu bikin kaki gatal. Misalnya seperti Not Empty dan masih banyak lagi.
Namun hal ini dikritik oleh salah satu kawan tadi. Dia memiliki pemahaman yang baik soal perkembangan musik di Papua dan seni sehingga obrolan itu semakin menarik.
“Saat ini musik anak-anak papsel tidak ada yg bermakna, kecuali Nick Young Money”.
Ia menilai musik-musik Papua Selatan pada umumnya bersifat populer, tidak ada seniman yang menghasilkan karya yang berkarakter seperti yang kita tau di Indonesia itu Ebiet, Iwan, dan di Papua Ada Mambesak dengan spirit Budaya, namum ditempat yang berbeda kita juga memiliki Ukam Maran, Pace Santana, dan R!kex yang memyuarakan tentang situasi politik di Papua lewat Hiphop. Ada juga Epo D’fenomeno yang juga memadukan Hiphop dengan identitas Papua dengan perpaduan budaya. Namun hal in tidak terlihat dalam seniman di Papua Selatan.
Semua hanya musik-musik emosional saat putus cinta dan hiburan fatamorgana tanpa makna. Menurutnya musik itu seni, dan seharusnya setiap seni memiliki makna untuk disampaikan kepada pendengarnya.
Menurut mereka Nick Y. Money merupakan salah satu rapper yang mengangkat situasi ekonomi, politik, budaya, sampai kehidupan sehari-hari melalui lirik-liriknyanya. Rapper yang berpulang ke alam baka 2021 silam ini bahkan belum ada penerus sampai detik ini.
Merauke dan Papua Selatan memiliki banyak persoalan dan kami harus membangun semuanya dari nol. Menemukan seniman dengan spirit seperti Nick. Y Money yang membangun kesadaran lewat karyanya dan Mendorong kehadiran mahasiswa Merauke yang kritis melalui organisasi serta mendukung Pemerintah lokal untuk tidak menekan dan mengintimidasi pilihan mahasiswa untuk berorganisasi.

