Oleh : Paskalis Haluk
Halo kawan pembaca
Saya Paskali. Tulisan ini yang saya tulis ini bukan hanya tentang perjuangan, tetapi juga tentang penderitaan dan air mata.
Tulisan ini menceritakan dua sosok perempuan hebat dari Papua, yaitu Mama Yosepha Alomang dan Mama Yasinta Moiwend. Bagi saya, mereka adalah perempuan pejuang yang luar biasa. Mereka berjuang melawan ketidakadilan atas tanah adat dan hutan yang dirampas.
Sebelum masuk ke kisah mereka, izinkan saya memperkenalkan sedikit tentang diri saya. Saya salah satu dari ribuan mahasiswa di kampus Universitas Papua.
Selama hampir tujuh tahun, saya aktif terlibat dalam berbagai solidaritas, baik di dalam kampus maupun di luar kampus seperti Kawan-kawan saya lainya.
Saya juga terlibat dalam berbagai aksi, diskusi, dan advokasi, baik di Papua maupun di tingkat nasional sampai internasional. Saya juga dipercayakan sebagai Menteri Hukum dan HAM di kampus universitas papua, dan saat ini juga menjabat sebagai Koordinator Amnesty Internasional Indonesia Chapter Universitas Papua.
Saya dan Kawan-kawan juga mengangkat berbagi isu tentang masyarakat adat, ekonomi, sosial politik, budaya, pendidikan, kesehatan, hingga konflik di Papua.
Semua itu saya lakukan karena terinspirasi dari dua sosok mama papua hebat ini.
Jujur Walaupun saya belum pernah bertemu langsung bertatapan empat mata dengan mama Yosepha dan Mama Yasinta, saya mengenal mereka melalui media sosial yang beredar , poster, dan juga tulisan buku.
Dari situlah saya tergerak hati untuk menulis kisah dua mama hebat ini sebagai bentuk ucapkan terimakasih dari anak mudah papua yang banyak belajar tentang arti perjuangan dari duak sosok permpuan kudus ini.Inilah cerita perjuangan dua perempuan kudus dari papua.
Siapa Mama Yosepha Alomang dan bagimana Perjuangannya?
Mama Yosepha Alomang adalah perempuan dari Suku Amungme, Timika, Papua Tengah. Ia dikenal sebagai pejuang yang membela tanah adat, terutama dalam melawan dampak aktivitas PT Freeport di Timika.
Mama Yosepha lahir di Kampung Tsinga pada tahun 1940-an. Sejak kecil, hidupnya penuh kesulitan karena menjadi yatim piatu. Namun, kondisi tersebut membentuk dirinya menjadi pribadi yang kuat dan mandiri.
Sejak muda, ia telah menunjukkan keberanian. Ia pernah berjuang sendiri untuk membayar pernikahannya, serta melawan peredaran minuman keras yang merusak masyarakat.
Perjuangannya semakin besar ketika tanah adatnya mulai dirampas. Ia aktif melakukan protes dan membela hak-hak masyarakat. Bahkan, ia pernah kehilangan anaknya saat harus mengungsi ke hutan akibat operasi militer.
Pada tahun 1977, ketika operasi militer terjadi di wilayah Amungme dan Timika, Mama Yosepha bersama ribuan masyarakat terpaksa mengungsi ke hutan. Selama tiga tahun (1977–1980), mereka bertahan hidup dalam kondisi yang sangat sulit. Dalam masa pengungsian itu, salah satu anaknya meninggal dunia.
Sejak awal 1980-an hingga 1998, Mama Yosepha terus melakukan perlawanan terhadap tindakan sewenang-wenang yang melanggar hak asasi manusia. Ia memimpin berbagai aksi demonstrasi damai, termasuk pemalangan kantor Freeport dan bandara di Timika.
Pada tahun 1994, ia bersama sejumlah warga dituduh membantu OPM. Ia ditangkap oleh militer, ditahan, dan mengalami penyiksaan, termasuk direndam dalam kontainer selama lebih dari satu bulan.Namun, semua itu tidak menghentikan perjuangannya.
Mama Yosepha tidak hanya memimpin aksi di lapangan, tetapi juga menempuh jalur hukum. Pada 19 Juni 1996, ia mengajukan gugatan terhadap Freeport di Pengadilan Negara Bagian Louisiana, Amerika Serikat.
Gugatan tersebut menyoroti tiga hal utama:
•Pelanggaran hak asasi manusia
•Perusakan lingkungan hidup
•Penghancuran budaya masyarakat adat
Dalam tuntutannya, ia meminta ganti rugi serta perubahan kebijakan lingkungan perusahaan, termasuk penghentian aktivitas tambang terbuka dan perbaikan hubungan dengan masyarakat adat.
Proses hukum ini berlangsung panjang. Pada 17 Oktober 1996, hakim Stanwood Duval Jr. memutuskan bahwa perkara tersebut dapat diproses di pengadilan negara bagian dan menolak upaya penggabungan kasus oleh pihak Freeport.
Kasus ini terus berlanjut hingga tingkat banding. Pada 4 Maret 1998, pengadilan banding Louisiana menegaskan bahwa pengadilan negara bagian memiliki yurisdiksi untuk mengadili gugatan Mama Yosepha.
Selain jalur hukum, Mama Yosepha juga mendirikan Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK) untuk membantu masyarakat. Dari perjuangannya, ia memperoleh berbagai penghargaan internasional, termasuk Goldman Environmental Prize.
Namun, di masa tuanya, kondisi Mama Yosepha sangat memprihatinkan. Ia mengalami kebutaan dan hidup dalam keterbatasan. Bantuan yang pernah dijanjikan oleh pihak perusahaan tidak lagi jelas realisasinya.
Pada 10 April 2026, melalui kuasa hukumnya, ia melayangkan somasi kepada PT Freeport terkait janji bantuan yang tidak terpenuhi. Ia memberikan batas waktu 14 hari kepada perusahaan untuk memenuhi tuntutannya.
Siapa yang Dihadapi Mama Yosepha?
Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. adalah salah satu perusahaan tambang emas terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat. Perusahaan ini mulai beroperasi di Indonesia sejak tahun 1967.
Sejak kehadirannya, masyarakat Amungme dan Kamoro menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka kehilangan tanah adat, gunung suci seperti Nemangkawi, serta menghadapi kerusakan lingkungan yang besar.
Banyak masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, bahkan nyawa, dan terpaksa mengungsi. Kehidupan sosial dan budaya mereka pun mengalami perubahan yang drastis.
Mama Yasinta Moiwend dan Perjuangannya
Mama Yasinta Moiwend adalah perempuan adat dari Suku Marind-Anim, Merauke, Papua Selatan. Ia dikenal sebagai tokoh perempuan yang berani membela tanah adat dan lingkungan di papua selatan.
Mama yasinta aktif menyuarakan penolakan terhadap proyek besar food estate yang dianggap mengancam hutan dan kehidupan masyarakat adat. Ia terlibat dalam berbagai aksi, diskusi, dan kampanye.
Mama yasinta aktif menyuarakan penolakan terhadap proyek besar food estate yang dianggap mengancam hutan dan kehidupan masyarakat adat. Ia terlibat dalam berbagai aksi, diskusi, dan kampanye.
Perjuangannya bahkan diangkat dalam film dokumenter berjudul Pesta Babi, yang menggambarkan perlawanan masyarakat adat Papua terhadap pembangunan yang tidak berpihak.
Mama Yasinta juga aktif dalam advokasi hukum, termasuk mengikuti sidang di Mahkamah Konstitusi. Namanya dikenal hingga tingkat nasional dan internasional.
Pidato Mama Yasinta Moiwend, Saat Menerima Penghargaan Akademi Jakarta 2025
Pidato ini disampaikan secara virtual saat penyerahan Penghargaan Akademi Jakarta 2025 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 13 Oktober 2025.
Mama Yasinta Moiwen yang mewakili komunitas Mama-mama Masyarakat Malind Anim menerima penghargaan AJ secara virtual, mengucapkan terima kasih kepada Tuhan dan para leluhur Malind Anim atas penghargaan tersebut.
“Puji dan syukur kepada Allah yang maha kuasa, kepada leluhur Malind Anim. Kami masih terus ada di atas tanah kami…, (walaupun) saat ini kami dalam ancaman akibat proyek strategi nasional dua juta hektar di tanah kami” ungkapnya tergetar.
Hutan Kami Digusur
Ia mengatakan, dirinya hanya salah satu dari sekian Mama-mama Malind yang (sampai) hari ini berjuang mempertahankan tanah adat mereka dari proyek strategi nasional (PSN) pemerintah yang hari ini telah terbukti merampas ruang hidup mereka.
“Saat ini pemerintah DPR, DPD, Gubernur, Bupati, dan Kementerian terkait tidak mendengar suara dan aspirasi kami. (Demikjian juga) Majelis Rakyat Papua juga tidak membela kami. Kami ditinggalkan sendiri. Hutan tempat kami mencari makan digusur. Lingkungan kami digusur, tempat hewan dan tanaman obat-obatan. Semua menjadi hancur karena proyek strategis nasional,” .
Mama Yasinta juga mengemukakan, apa yang terjadi di tanah adat Malind Anim, khususnya di Wanam. Sampai saat ini pembongkaran masih berjalan terus.
Tempat kami cari makan, tempat kami melahirkan sudah tidak ada lagi.
“Kebiasaan kami mama-mama Papua, kami punya tempat melahirkan, itu di hutan. Kita buat sebuah pondok, kita melahirkan dan Tuhan sudah menyiapkan obat-obat kami, obat-obat alam yang sudah tidak ada lagi. Sehingga kami sekarang kehilangan alam, kehilangan tanah kami. Tanah kami anggap adalah ibu kami. Dan kami saat ini juga mau dikemanakan…?”.
Bagi masyarakat adat Malind Anim, tanah dan hutan kami, yang kami anggap, kami punya bank. Hewan yang kami dapat untuk makan, minum, dan sebagian yang kami jual sudah tidak ada. Dikemukakannya, “Kami sudah bersuara dari tahun 2024.
Begitu banyak yang saya hadapi, tantangan dan intimidasi, tetap saya melawan. Saya tidak mundur. Saya tetap melawan. Saya tetap maju demi tanah dan hutan kami. Karena Tuhan memberikan tanah dan hutan untuk kami makan, minum, dan bahkan ketika kami mati.”
Dengan menahan perasaan, Mama Yasinta menyatakan, “Kami dikuburkan di tanah. Tidak mungkin kami dibuang seperti kucing atau anjing. Namanya kita manusia harus dimakamkan selayaknya. Banyak yang kami hadapi, termasuk air bersih yang juga sudah hilang karena proyek strategi nasional.”
Mama Yasinta mengatakan, pula, “Begitu dia membongkar tanah kami, akhirnya air dari laut masuk, air yang bersih menjadi air yang asin. Di saat ini kami mencari air bersih dengan susah payah. Kami masih bersyukur karena ada hujan, kami masih bisa dapat air bersih. Jadi kami menganggap perusahaan yang menggusur tanah kami atau pemerintah, tidak peduli dengan suara rakyat aspirasi. Dia menganggap kami apa ya sebetulnya.., kami ini manusia, kami bersuara tapi tidak pernah ada tanggapan dari pemerintah.”
Papua Bukan Tanah Kosong
Dikemukakan pula, suara rakyat sampai di Jakarta, sampai di Bapak Presiden Prabowo Subianto, tetapi tidak pernah suara rakyat tak ditanggapi. “Kami dianggap sebagai hewan apa iblis yang datang ke Jakarta untuk bersuara,”.
“Suara orang miskin. Kami ini orang Papua. Inilah kami orang Papua. Papua bukan tanah kosong. Ada pemilik, ada penghuninya, ada penjaganya. Sejak Allah jadikan tanah Papua, tanah Papua kaya raya. Tetapi apa yang kami dapat, orang Papua? Malah kami diusir, tanah kami digusur. Kira-kira kami mau ke mana? Kami mau tinggal di mana? Karena, itu kami berusaha untuk menolak Proyek Strategi Nasional,” .
“Ini adalah bukti bahwa masih ada harapan kepada kami. Mama-mama adat Malind Anim untuk berjuang mempertahankan tanah kami,” mama Yasinta mengakhiri pidatonya.
Mama Yasinta Belok Aarah mendukung PSN, Kenapa?
Saya menjadi salah satu yang heran ketika melihat video yang beredar sejak 23 Mei hingga Juni, yang memperlihatkan Mama Yasinta berada di Jakarta bersama tiga advokat dan seorang perempuan asli Papua dari Timika.
Media BBC Indonesia juga mengabarkan bahwa dua dari empat orang tersebut diduga memiliki rekam jejak digital dan hubungan dengan Badan Intelijen Negara (BIN). Salah satu advokat yang ditemui Yasinta diketahui bekerja di firma hukum milik pengurus Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra.
Dari video yang diberitakan media Jubi, keluarga Mama Yasinta menyampaikan bahwa ia pergi dari rumah pada hari yang sama dengan kunjungan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke Kampung Wanam. Namun, Kementerian Pertahanan membantah keterlibatan dalam keberangkatan tersebut.
Saya juga mempertanyakan bagaimana Mama Yasinta bisa membiayai perjalanan ke Jakarta, mengingat selama ini ia hanya bergantung pada hasil berjualan sayur di pasar.
Nama Eka Kora juga muncul dalam berbagai pemberitaan. Pada 2022, ia diketahui menjabat sebagai salah satu tokoh dalam Papua Muda Inspiratif, sebuah program yang dibentuk dan dibina oleh Badan Intelijen Negara.
Keberadaan Eka Kora bersama Mama Yasinta di Jakarta menjadi perbincangan publik. Dalam klarifikasinya, Eka menyatakan bahwa pertemuan mereka terjadi secara kebetulan.
“Saya tidak tahu-menahu tentang Mama Yasinta. Kami bertemu secara kebetulan. Mama meminta saya untuk menemani, dan saya sebagai anak Papua merasa iba,” ujarnya.
Ia juga membantah memiliki kepentingan atau keterlibatan dalam isu tersebut.
Di sisi lain, keluarga Mama Yasinta mengaku kehilangan dan menyatakan bahwa ia dibawa tanpa izin.
Esau kepuanakan mama yasinta bilang “Kami merasa Mama dibawa tanpa sepengetahuan keluarga,”
Keluarga juga menduga bahwa Mama Yasinta mengalami tekanan untuk mengubah sikapnya terhadap PSN.
Penutup
Perjuangan Mama Yosepha dan Mama Yasinta mencerminkan realitas yang dihadapi masyarakat adat Papua hari ini. Mereka berjuang mempertahankan tanah, identitas, dan kehidupan, di tengah tekanan besar dari pembangunan dan kepentingan ekonomi.
Kisah mereka mengajarkan kita bahwa perjuangan tidak selalu mudah dan tidak selalu lurus. Namun, keberanian mereka menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Sebagai generasi muda Papua, kita memiliki tanggung jawab untuk terus belajar, bersuara, dan menjaga tanah serta hak-hak masyarakat adat. Perjuangan ini belum selesai. Dan suara mereka tidak boleh berhenti.
Sumber :
• https://jubi.id/polhukam/2026/mama-yosepha-alomang-somasi-pt-freeport/
•Kejahatan kemanusiaan, kehancuaran ekologi Freeport, dan pelangaran HAM di Degeuwo Paniai-Markus Haluk.
•https://www.bbc.com/indonesia/articles/cp9p978z49ko

