• Home  
  • Merawat Ingatan: Kesaksian Siswa dalam Gelombang Protes Rasisme di Wamena
- HAM - Refleksi

Merawat Ingatan: Kesaksian Siswa dalam Gelombang Protes Rasisme di Wamena

Oleh: Paskalis Haluk* Apakah kita masih mengingat 2019? Tahun ketika kata “monyet” diteriakkan kepada mahasiswa Papua di Surabaya. Tahun ketika sebuah peristiwa di depan Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan berubah menjadi gelombang protes di berbagai kota di Tanah Papua. Enam tahun telah berlalu. Namun, bagi mereka yang mengalaminya secara langsung, 2019 bukan sekadar catatan […]

Oleh: Paskalis Haluk*

Apakah kita masih mengingat 2019?

Tahun ketika kata “monyet” diteriakkan kepada mahasiswa Papua di Surabaya. Tahun ketika sebuah peristiwa di depan Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan berubah menjadi gelombang protes di berbagai kota di Tanah Papua.

Enam tahun telah berlalu. Namun, bagi mereka yang mengalaminya secara langsung, 2019 bukan sekadar catatan dalam sejarah. Ia adalah ingatan yang masih tinggal dalam tubuh, percakapan, dan cara kita memandang pengalaman sebagai orang Papua.

Tulisan ini adalah upaya untuk mengingat kembali peristiwa tersebut dari sudut pandang seorang siswa yang berada di Wamena ketika gelombang protes itu terjadi. Saya tidak berada di Surabaya. Saya tidak melihat langsung apa yang terjadi di Jalan Kalasan. Tetapi berita tentang penghinaan terhadap mahasiswa Papua sampai ke Wamena dan mengubah suasana kota tempat saya tinggal.

Saya masih seorang siswa ketika itu.

Saya ingat kemarahan yang muncul. Saya ingat orang-orang turun ke jalan. Saya juga ingat bagaimana sebuah peristiwa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya terasa begitu dekat dengan kehidupan kami.

Karena bagi kami, persoalannya bukan hanya tentang sebuah bendera. Persoalannya adalah tentang bagaimana tubuh dan identitas orang Papua kembali dihina karena ras dan warna kulitnya. Dan dari situlah ingatan saya tentang 2019 dimulai.

Kesaksian Penulis

Saya adalah salah satu dari jutaan siswa-siswi yang melakukan protes terhadap ujaran rasisme di Kota Wamena. Saat itu, saya sendiri belum benar-benar memahami penyebab awal kejadian ujaran rasis tersebut. Yang saya dengar dari teman-teman, kejadian itu bermula dari seorang guru di SMA PGRI di Kota Wamena.

Pagi itu, saya berangkat dari rumah Parema menuju ke sekolah. Jarak rumah saya cukup jauh, jadi saya biasanya berjalan kaki hampir satu jam untuk sampai di SMK Yasores Wamena. Hari itu adalah Senin pagi, tanggal 23 September 2019. Ketika tiba di sekolah, upacara bendera sedang berlangsung. Karena saya terlambat, saya tidak ikut upacara. Jujur saja, saya termasuk siswa yang sering malas ikut upacara, apalagi jika pakaian tidak lengkap. Berbeda dengan teman-teman saya yang lain yang rapi.

Beberapa hari sebelum kejadian aksi protes itu, saya bersama teman-teman, Yoram, Anton, Enius, dan Jhoni, pergi ke Supulawaga, Kampung Akima, rumah teman saya Yoram, untuk membantu kerja kebun. Setelah bekerja di kebun, kami beristirahat di honai. Bapa Yoram bercerita bahwa ia melihat Kota Wamena tertutup kabut hitam dari kejauhan. Ia merasa firasatnya tidak baik dan berpesan kepada kami agar berhati-hati ke sekolah keesokan harinya karena mungkin akan terjadi kekacauan di Kota Wamena. Saat itu kami mendengar apa yang disampaikan Bapanya teman saya itu, tetapi kami lebih asyik bercerita dan tidak menanggapinya dengan serius.

Keesokan harinya, Senin, 23 September 2019, saya pagi itu berangkat ke sekolah. Karena terlambat, saya berada di luar pagar sekolah saat upacara berlangsung. Dari sana, saya melihat ada banyak rombongan siswa-siswi datang dari arah Pasar Potikelek sambil melempari rumah-rumah warga, terutama milik para pendatang, sambil berteriak, “Kita monyet!”, “Papua Merdeka!”, “Kita monyet!”

Situasi cepat berubah menjadi kacau. Motor dan mobil yang terparkir di pinggir jalan menjadi sasaran batu. Orang-orang pendatang dikejar oleh massa. Massa berasal dari berbagai sekolah, mulai dari SMA/SMK, SMP, sampai SD. Mereka berteriak, “Kita monyet!” dan “Papua Merdeka!” Tidak lama kemudian, massa mulai masuk ke sekolah saya, SMK Yasores. Mereka merusak fasilitas sekolah dan mencari guru-guru pendatang. Saat itu, emosi benar-benar meluap.

Saya dan beberapa teman akhirnya ikut bergabung dengan massa menuju sekolah Yaso Ninabua. Massa protes melakukan hal yang sama, yaitu merusak fasilitas sekolah dan mengejar guru-guru pendatang. Di perjalanan, saya menyaksikan sendiri seorang ojek pendatang dipukul dan diinjak hingga jatuh ke parit di depan pintu jalan masuk sekolah SMK Yaso Ninabua. Sungguh, saya melihat situasi saat itu semua dalam keadaan marah dan massa protes sudah berada di luar kendali. Saat dalam perjalanan menuju SMA Kristen, semua massa melempari rumah-rumah pendatang. Ada juga yang saya lihat merusak kendaraan roda dua dan roda empat yang terparkir di pinggir Jalan Sekanma.

Di SMA Kristen, hal yang sama terjadi. Fasilitas sekolah dirusak, guru-guru pendatang dikejar. Bahkan, ada yang saya lihat dengan mata sendiri menurunkan dan merobek bendera Merah Putih. Massa semakin besar karena masyarakat juga mulai bergabung. Massa bergerak menuju pertigaan Pasar Baru, lalu ke arah Polsek Hom-Hom. Aparat keamanan menghadang, tetapi massa tetap maju sambil terus berteriak, “Papua Merdeka! Papua Merdeka!”

Saya melihat beberapa massa mengambil jeriken yang berisi bensin dan mulai membakar kendaraan dan bangunan kios di pinggir Jalan Hom-Hom. Ketika hampir mendekati sekitar Kali Heloma, aparat mulai menembakkan gas air mata, lalu disusul dengan tembakan peluru ke arah massa. Salah satu teman saya terkena tembakan di kaki bagian paha.

Massa berusaha menuju teman-teman yang ditahan oleh pihak keamanan di Kantor Bupati, tetapi kami dihadang oleh Brimob dengan peralatan senjata lengkap. Mereka menembak kami dengan peluru. Saat itu juga, saya dan teman-teman dihadang dengan ketat. Akhirnya, kami mulai mencari jalan lain untuk berusaha masuk menemui teman-teman kami yang ada di Kantor Bupati. Akhirnya, saya dengan beberapa teman, Yoram, Nason, dan Joni, mulai ikut jalan melalui jalur kecil Lokasi Tiga. Setelah saya dan teman-teman lolos dari penjagaan ketat itu, di jembatan Kali Heloma massa melakukan perlawanan dengan pihak Brimob dan Tentara menggunakan panah dan batu, sementara ada yang lain membakar rumah di depan jalan.

Saya dengan Yoram bahkan sempat meminta sopir truk sampah yang ada dekat situ untuk menutup jalan dengan sampah yang dibawa dalam bak truk. Sampah itu dijatuhkan di tengah jalan agar Brimob dan Tentara tidak bisa lewat. Akhirnya, setelah menurunkan sampah di tengah jalan, kami kembali ke pertigaan Pasar Baru, tempat orang tua wali siswa-siswi mulai berkumpul. Mereka berusaha masuk ke kota untuk menolong anak-anak yang ditahan di Kantor Bupati. Di tengah kerumunan itu, Bapanya teman saya Yoram mengatakan kepada saya dan Yoram bahwa kami tidak perlu ikut lagi. Orang tua akan mengambil alih. Saya dengan Yoram diminta pulang ke rumah untuk makan dan beristirahat.

Saya dan Yoram pulang ke rumahnya di Mumi, tetapi hati kami masih gelisah memikirkan teman-teman kami yang lain yang ditahan. Saya dengan Yoram kembali ke kota untuk mencari teman-teman kami yang terpisah karena dikejar oleh aparat Brimob dan Tentara. Namun, siang itu internet tiba-tiba diputus. Kami tidak bisa lagi berkomunikasi. Banyak kabar beredar bahwa ada yang ditangkap dan ditembak. Saya dengan Yoram akhirnya kembali dimarahi lagi oleh Bapanya teman saya Yoram dan disuruh pulang.

Menjelang sore, saya dari Mumi, rumahnya teman saya Yoram, memutuskan pulang ke kampung saya, Parema. Saya mau ikut jalan kota, tetapi karena situasi dijaga ketat, saya diantar oleh adik Ferdi dengan motor melalui jalan Siepkosi-Sekan sampai adik Ferdi mengantar saya di kaki Gunung Minugiwa. Setelah itu, Ferdi kembali pulang. Saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki masuk ke Kampung Pugima, setelah itu hingga akhirnya tiba di rumah Parema, Distrik Wesaput. Namun, setelah saya tiba di rumah, saya tidak langsung memberi kabar kepada orang tua kalau saya sudah datang. Saya langsung masuk ke honai dan beristirahat. Setelah beristirahat, saya keluar. Saya melihat para orang tua dan pemuda sudah berkumpul di depan rumahnya Jhon untuk berjaga-jaga. Sebagian membuat alat seperti katapel dan panah.

Saat saya muncul, Mama saya dan kakak perempuan saya langsung menangis karena mereka mengira saya belum kembali dari tempat kerusuhan. Mereka sudah takut dan sempat mencari saya ke dalam Kota Wamena karena semua anak sekolah yang ada di Kampung Parema sudah pulang. Tinggal saya sendiri yang belum kembali. Akhirnya, semua merasa lega karena seluruh anak-anak dari Kampung Parema yang bersekolah di kota sudah kembali dengan selamat.

Penangkapan dan Pencarian Siswa-Siswi di Kota Wamena

Setelah saya bersama teman-teman melakukan aksi protes yang dimulai dari pertigaan Pasar Baru, para siswa-siswi mulai pulang ke tempat tinggal masing-masing. Namun, dalam perjalanan pulang, sejumlah siswa ditangkap oleh aparat TNI-Polri. Mereka dipukul, dimasukkan ke dalam kendaraan Dalmas, dan sebagian ditahan di Kantor Bupati Jayawijaya dengan penjagaan ketat oleh aparat bersenjata. Tidak lama kemudian, muncul pihak yang tidak dikenal masuk melalui pintu belakang Kantor Bupati dan melakukan pembakaran kantor Bupati. Sejak saat itu, situasi berubah menjadi semakin tidak terkendali.

Para siswa yang ditahan berhamburan keluar. Sementara itu, massa aksi yang terdiri dari siswa SMA PGRI, SMA Negeri, SMA St. Thomas, SMA Yapis, dan beberapa SMP juga ikut melakukan perlawanan dengan melempar batu ke arah aparat. TNI-Polri kemudian merespons dengan tindakan represif, termasuk penembakan terhadap massa aksi yang saat itu berada dalam kondisi panik dan tidak terorganisir. Setelah kejadian tersebut, massa mulai membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. Namun, masih ada yang ditangkap, bahkan ditembak, dalam proses pembubaran tersebut.

Informasi kemudian menyebar ke berbagai wilayah. Para orang tua siswa dari berbagai wilayah seperti Pugima, Ohena, Wesaput, Welesi, Megapura, Woma, Minimo, Wasua, Kurulu, Tulem, Sinakma, Honelama, Holima-Moai, dan wilayah lainnya mulai bergerak menuju Kota Wamena untuk menjemput anak-anak mereka. Mereka berkumpul di berbagai titik, seperti Jembatan Wesaput, Pasar Misi, pertigaan Pasar Baru, hingga jalan-jalan utama menuju pintu masuk Kota Wamena.

Pada saat yang sama, komunikasi di Wamena lumpuh total. Akses internet dan jaringan telepon diputus secara tiba-tiba sehingga masyarakat tidak dapat saling berkomunikasi dengan baik. Dalam kondisi tanpa informasi yang jelas, ketegangan semakin meningkat. Kemarahan massa yang tidak terkendali kemudian berujung pada aksi pembakaran terhadap ruko, Pasar Misi, serta rumah-rumah milik pendatang. Aksi tersebut meluas hingga ke wilayah Hom-Hom, Sinakma, Jalan Irian, Kama, dan sekitarnya.

Pasca kejadian, banyak warga kota mengungsi ke berbagai wilayah. Rumah saya di Parema menjadi salah satu tempat penampungan pengungsi, khususnya dari keluarga Yali. Selain itu, masyarakat juga mengungsi ke Pugima, Sekan, Minimo, Wesaput, Megapura, Gunung Susu, Holima, Akima, Kurulu, Tulem, hingga Pikeh. Selama masa pengungsian, masyarakat bertahan hidup dengan membuka kebun di kampung masing-masing.

Namun, yang menjadi perhatian serius adalah sikap aparat TNI-Polri yang dinilai tidak memberikan perlindungan kepada masyarakat pribumi Wamena. Sebaliknya, aparat lebih fokus melindungi masyarakat pendatang dan fasilitas militer. Masyarakat pribumi justru dicurigai, dikejar, dan ditangkap. Beberapa hari setelah kejadian, aparat TNI-Polri dan Brimob melakukan operasi pencarian terhadap siswa-siswi yang diduga terlibat dalam aksi. Mereka bahkan masuk ke rumah-rumah warga, termasuk rumah saya, dan melakukan pengejaran hingga ke kampung-kampung di sepanjang Kali Baliem, seperti Parema dan wilayah lainnya.

Aparat juga memperketat penjagaan di seluruh pintu masuk Kota Wamena, seperti di Wesaput, Woma, Minimo, pertigaan Pike, Moi-Holima, dan Sinakma-Honelama. Akibatnya, masyarakat selama hampir tiga bulan tidak berani masuk ke kota karena takut ditangkap. Mereka bertahan di kampung dalam kondisi pengungsian.

Pada masa itu, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dinilai tidak hadir untuk melindungi masyarakat pribumi. Situasi sepenuhnya dikendalikan oleh aparat militer. Seharusnya pemerintah bersikap tegas dan memberikan perlindungan serta kepastian kepada masyarakat. Namun, hingga kini, tidak ada pernyataan resmi yang jelas mengenai situasi tersebut. Hingga saat ini, pelaku utama dari peristiwa rasisme belum diumumkan kepada publik. Demikian pula dengan jumlah korban, baik yang luka-luka maupun meninggal dunia, belum disampaikan secara transparan oleh pemerintah maupun aparat keamanan.

Selain itu, para korban rasisme juga belum mendapatkan kompensasi ataupun pemulihan atas kerugian yang mereka alami. Masyarakat pribumi Wamena masih menunggu keadilan dan tanggung jawab negara atas peristiwa yang terjadi.

Deretan Aksi Protes  Rasisme Di  Papua

Pada Senin, 19 Agustus Aksi Portes pertama di  Papua di lasenaka manakowari mendengar ujaran rasisme tersebut. Di kota Manokwari  aksi demo menolak dan mengetuk rasisme berujung kerusuhan. Aksi kekerasan memalang jalan  dari amban sampai ke kantor DPRD pelabuan membakar fasilitas gedung dan fasilitas angkutan sejumlah pedagang di pingir jalan.  

Pada 12 Agustus 2019 aksi demo di wilayah Fak-Fak berlasuang ricuh. Demonstrasi nyaris terlibat bentrok dan terlibat aksi kekerasan dengan etnis non Papua. Sempat terjadi kericuhan yang berdampak gedung dewan adat terbakar oleh gerakan pro Indonesia. Kota Fak-Fak saat itu berada diambang bentrokan dan kekerasan antar etnis (konflik horizontal).

Pada 22 Agustus 2019 Aksi demo digelar di kota Timika, yang dibubarkan paksa   melalui kekerasan oleh pihak keamanan polisi Brimob. Menurut laporan skpkc Ada setidaknya  37 orang ditangkap dan bermalam di markas kepolisian setempat. 10 di antaranya Mereke dinyatakan tersangka dan ditahan.

Pada 26 Agustus 2019 Aksi Portes terjadi di  Pegunungan Bintang kota Oksibil ribuan masyarakat menolak segala ujaran rasisme dan menutut supaya para pelaku di Jawa Timur ditangkap. Massa ini juga mengkritik habis-habisan kebijakan NKRI.

Pada 28 Agustus 2019 di kota Deyiayi masyarakat menggelar demo dengan izin Bupati. Secara tradisional banyak warga yang datang membawa panah dan busur dan melakukan tarian perlawanan waitai. Dalam laporan SKPKC Fransikan Papua aksi turun jalan ini berujung pada penembakan sangat brutal. Akibatnya sejumlah orang tewas; semnatar disebutkan tiga orang: dua sipil dan satu tentara, dan banyak yang terluka.   

Pada 29 Agustus 2019  Aksi demo dari Waena-Abepura- Jayapura  dengan long march ditandai perusahaan fasilitas publik termasuk membakar gedung majelis rakyat Papua di kota raja Jayapura. Lalu pelemparan batu oleh peserta Aksi demo pada sejumlah gedung, termaksud tokoh-tokoh dilewati. Secara khusus di sekitarn entrop Jayapura perusakan besar-besaran: sejumlah fasilitas umum serta kios-kios dibakar hancur juga di kota Jayapura sejumlah gedung dibakar oleh massa aksi.  

Penutup

Peristiwa rasisme tahun 2019, yang berawal dari insiden di Surabaya dan Malang lalu menyebar hingga ke berbagai wilayah di Tanah Papua, termasuk Kota Wamena, merupakan luka kolektif yang belum sepenuhnya pulih. Pengalaman yang saya tuliskan ini bukan sekadar kenangan pribadi, tetapi bagian dari sejarah sosial yang membentuk cara pandang, emosi, dan relasi antar sesama anak bangsa.

Kita melihat bagaimana ujaran rasis dapat memicu kemarahan yang meluas, menggerakkan solidaritas, tetapi juga berujung pada kekerasan, kerusakan, dan jatuhnya korban. Dalam situasi tersebut, banyak pihak termasuk siswa-siswi terseret dalam arus emosi yang sulit dikendalikan. Negara, masyarakat, dan kita semua dihadapkan pada kenyataan bahwa rasisme bukan hanya persoalan kata-kata, tetapi dapat berkembang menjadi konflik yang nyata dan merusak.

Melalui tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa mengingat bukan berarti membuka luka tanpa tujuan, tetapi sebagai upaya untuk belajar, memahami, dan mencegah agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di masa depan. Ingatan ini harus menjadi dasar untuk membangun kesadaran bersama bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama dan tidak boleh direndahkan oleh alasan apa pun.       

Peristiwa 2019 harus menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Tanpa keseriusan dalam menyelesaikan akar masalah rasisme, potensi konflik akan selalu ada. Karena itu, mari kita rawat ingatan ini bukan dengan kebencian, tetapi dengan komitmen untuk menciptakan keadilan, perdamaian, dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Sumber:

Seri Memoaria Passionis No. 38, Tuntutan Martabat: Orang Papua Dihukum, Protes Politik Rasisme di Tanah Papua 2019, hlm. 16–56.

Pengalaman pribadi saat melakuakan protes ujaran rasis di kota wamena pada tanggal 23 Sepetember Tahun 2019.

Kesaksian pribadi penulis mengenai keterlibatannya dalam aksi protes terhadap ujaran rasisme di Kota Wamena pada 23 September 2019.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/ab/Wamena%2C_Papua%2C_Indonesia_2019_02.jpg?utm_source=commons.wikimedia.org&utm_campaign=index&utm_content=original

*Penulis merupakan salah satu saksi yang terlibat langsung dalam aksi protes terhadap ujaran rasisme di Kota Wamena pada 2019

Tentang Aneta

Aneta lahir sebagai respons atas kekosongan itu. Kami adalah media alternatif yang hadir untuk mendokumentasikan, menyuarakan, dan memperjuangkan pengalaman serta pengetahuan perempuan Papua dan kelompok marjinal. 

Kontak: +62 …

Visi

“Aneta menjadi ruang berpikir, berlawan, dan bertutur bagi perempuan dan kelompok marjinal untuk masa depan yang adil, setara, dan tanpa diskriminasi.”

Aneta @2025