Mengapa Aneta Hadir?

Info Kontak

  • Home  
  • Pov : “Ngelabrak” The Devil Advocate
- Refleksi

Pov : “Ngelabrak” The Devil Advocate

Oleh : Victoria Di suatu sore yang sangat tenang dan teduh, saya sedang mengistirahatkan badan yang lelah dari  bekerja seharian dan tentu saja saya tidak melupakan ponsel saya untuk menemani istirahat saya. Ketika sedang asik menggulir-gulir konten video pendek di platform Tiktok, saya bertemu dengan konten yang memperlihatkan wajah seorang pria yang dipenuhi dengan tulisan […]

Oleh : Victoria

Di suatu sore yang sangat tenang dan teduh, saya sedang mengistirahatkan badan yang lelah dari  bekerja seharian dan tentu saja saya tidak melupakan ponsel saya untuk menemani istirahat saya. Ketika sedang asik menggulir-gulir konten video pendek di platform Tiktok, saya bertemu dengan konten yang memperlihatkan wajah seorang pria yang dipenuhi dengan tulisan yang cukup padat. Saya cukup penasaran untuk membiarkan konten tersebut berlalu begitu saja sehingga saya memperhatikan konten tersebut dengan seksama. Betapa terkejutnya saya ketika melihat postingan tersebut. 

“Rempe Modernis di Papua nih paling aneh sudah, Menganggap memasak buat suami itu tidak terlalu penting. Padahal bentuk tanggung jawab dan rasa cinta kepada suami itu bisa dibuktikan dari ko punya masakan itu. Masak itu surviving/basic skill. iyo itu sewaktu ko masih jomblo, tong laki-laki di hidup susah baru bawa pulang koi, baru ko punya tugas dan tanggung jawab sebagai istri itu apa? sa tra kaget kalau angka pernikahan dan kelahiran semakin menurun di Indonesia”

Tentu saja saya mendidih membaca konten ini lalu melihat ke kolom komentar dan menemukan beberapa akun yang turut mencoba memperbaiki cara berpikir yang salah ini. saya meyakini dibalik akun-akun tersebut, mereka adalah perempuan yang tentu saja tidak sepakat dengan konten ini. terlihat dari balasan komentar-komentarnya, pemilik akun terkesan denial, menyudutkan para perempuan yang membela diri mereka dan yang paling parahnya lagi hampir semua komentarnya tentu saja tidak memperlihatkan pemilik akun tidak memahami apa yang dia buat.

Akun The Devil Advocate (emotikon api)

The Devil Advocate adalah nama pemilik akun yang yang saya maksudkan di atas. Berdasarkan bio pada akunnya terlihat pemilik akun mendefinisikan dirinya sebagai “Pekerja Rekonstruksi Sosial”. Akun tersebut memperlihatkan beberapa playlist seperti “Movie- Confidence – Teman – Lingkungan Gereja – Tempat Kerja – masih ada beberapa lainnya”. Jika kita menelusuri ke bagian postingannya, kita akan menemukan adanya tiga video yang ditandai. Video pertama memperlihatkan Superman kulit putih sedang melaju kencang ke atas udara lalu diakhiri dengan mempertontonkan logo S pada baju sang superman dan ada keterangan pada video tersebut  yaitu “ sa yang sedang menuju medan perang melawan Tirani Feminis Papua be like : “. Pada video kedua pemilik akun mencoba menjelaskan asal nama akunnya yang ternyata diambil dari judul sebuah film yang diperankan oleh Keanu Reeves di tahun 1997. Pemilik akun menjelaskan kalau film ini mengajarkannya tentang bahaya akan keserakahan, ambisi yang berlebihan dan godaan untuk mengorbankan nilai moral demi kesuksesan. Film ini memberikan pelajaran penting tentang memiliki kehendak bebas, mempertanyakan keputusan yang dibuat dan menjaga keseimbangan antara ambisi dan integritas, demikian tulisnya. Kemudian video ketiga yang dia pin menggambarkan ada seseorang yang bertanya kenapa konten-kontennya menjelekan perempuan? lalu pemilik akun menjelaskan bahwa akun-akun tersebut dibuat untuk menangkal dan mengedukasi ulang kembali perempuan FOMO di Papua yang bangga dengan jalan hidup dengan pasang standar tidak jelas yang berasal dari influencer di platform tiktok. tentu saja disertai dengan bukti yang bukanlah bukti melainkan opininya sendiri. Ketiga video tersebut mendapat atensi yang cukup banyak dengan lebih dari dua ribu hingga lebih dari dua puluh ribu kali diputarkan. 

Kita Semua Harus Menjadi Feminis

Tulisan ini saya buat sebagai kontribusi saya untuk mengkritisi konten-konten yang dibuatnya. mengapa melalui tulisan? karena cukup melelahkan untuk terus menerus berkomentar tetapi tidak ditanggapi, melihat dan merasa frustasi ketika akun-akun perempuan lainnya membela dirinya tetapi kembali disudutkan atau bahkan  direndahkan karena dianggap sebagai seseorang yang tidak paham dan sesat pikir. Anggaplah saya cukup emosional dan reaktif tetapi tulisan ini sekaligus mempertegas posisi saya. 

Saya tidak mendeklarasikan diri saya sebagai seorang Feminis tetapi saya ingin menghidupi nilai-nilai Feminisme tersebut seperti seruan penulis Nigeria, Chimamanda Ngozi Adichie, yaitu “Kita semua harus menjadi feminis”. Tentu saja, saya sangat menyarankan siapapun untuk bisa membaca tulisan Chimamanda baik itu dalam versi aslinya maupun versi bahasa Indonesia karena mungkin dari buku inilah kita sebagai perempuan berwarna kulit dapat belajar dan memahami lebih baik menjadi seorang perempuan yang tumbuh dalam budaya patriarki dan bagaimana dirinya terus menavigasikan dirinya sebagai seorang feminis. Chimamanda menjelaskan feminisme dengan sangat baik terlebih dalam  suratnya yang ia kirimkan untuk sahabatnya yang ingin mengajarkan feminisme kepada anaknya sejak dini dalam bab Teruntuk Ijeawele: Manifesto Feminis dalam Lima Belas Anjuran.  Saya berharap ketika kita bisa membaca tulisan ini kita akan bisa memahami feminis yang dimaksudkan oleh Chimamanda dan menemukan apa yang salah dengan konten-konten The Devil Advocate. 

Selain itu, kita juga perlu memahami apa itu patriarki yang selalu menjadi negasi dari feminisme. kenapa? karena tentu saja sudah ada yang mempertanyakan pemahamannya terhadap Patriarki tersebut lalu dibalas dengan hanya memberikan cuplikan gambar dari “Kamus Bahasa Yunani” yang tentu saja ketika ditanya alamat kamus tersebut tidak ditanggapi di kolom komentar. Cuplikan tersebut diberi garis merah sebagai penegasan bahwa definisi patriarki adalah head of founder of family = kepala keluarga yang kembali ditegaskan dalam kolom komentarnya. Saya rasa ini tidak menjelaskan apa-apa. Anita Dhewy dalam tulisannya dirubik Kamus Feminis Konde.co menjelaskan lebih mendalam terkait apa itu Patriarki. Anita Dhewy menjelaskan asal usul Patriarki, bagaimana patriarki ini dinilai dalam gerakan perempuan lalu bagaimana patriarki ini diperkenalkan dan hidup diantara kita semua baik itu melalui institusi keluarga, media dan sistem yang lebih besar yang menindas perempuan. Bahkan dalam tulisannya Anita juga menjelaskan bahwa korban dari patriarki tidak selalu perempuan tetapi sistem ini juga menindas laki-laki. 

Admin TDA hanya meyakini secara brutal kalau patriarki hanya sebatas kepemimpinan laki-laki dalam keluarga dan meletakan tanggung jawab tertinggi kelangsungan keluarga ada di laki-laki. Dia melihat Patriarki hanya dalam pusaran keluarga dan rumah tangga, juga masih bermain-main di area pembagian peran dalam rumah tangga. Hal yang tidak dia sadari atau tidak mau akui bahwa ada perbedaan jelas antara kodrat dan konstruksi sosial. Yang terlihat jelas dalam kerangka berpikirnya, pembentukan keluarga baginya bukanlah konstruksi sosial yang tentu saja dalam pelaksanaanya memiliki kelenturannya sendiri. oleh karena itu saya pun menilai bisa jadi admin pun tidak memahami dengan baik apa itu seks, gender dan seksualitas.  

Bagi saya, sangat disayangkan ketika amin TDA mengutip Gerda Lerner, The Creation of Patriarchy sebagai acuannya dalam memahami patriarki tetapi tidak tuntas dalam mempelajarinya atau bahkan tuduhan paling kasar adalah dia bahkan tidak membacanya. Dia (mungkin) hanya mengambil intisari dari Lerner yang menyatakan bahwa patriarki ini sangat mengakar dan akan terus dominan karena memiliki sejarah yang sangat panjang, dinormalisasi dengan status quo dan memiliki kuasa. Dia tidak mengambil atau sengaja meniadakan posisi perempuan dalam sejarah, bagaimana pengkondisian terhadap perempuan sebagai korban membuat perempuan terbatas dan tunduk, dan Lerner juga memikirkan bagaimana akan terjadinya perubahan kesadaran di perempuan itu sendiri. Bahkan dalam sebuah ringkasan tulisan Lerner juga menjelaskan bahwa yang harus kita pikirkan adalah mendekonstruksi patriarki agar terjadi pemulihan dari kerusakan yang memarginalkan perempuan di masa lalu sehingga kita juga bisa memperbaiki masa sekarang demi masa depan yang lebih baik bagi perempuan dan masyarakat secara luas. 

Devil’s Advocate Perjuangan Perempuan Papua

Afridal Darmi, SH, LLM dari LBH Banda Aceh membuat sebuah tulisan yang bertajuk Mengenal Devil’s Advocate dan “The Devil’s Advocate” yang membahas perbedaan antara makna Devil’s Advocate dan Film The Devil’s Advocate. The Devil’s Advocate memang menceritakan bagaimana seorang yang bekerja sebagai advokat menggoda manusia agar berpaling dari nilai-nilai etis dan mengkorupsi moral bahkan menantang kepercayaan manusia terhadap ketuhanan. Film ini memiliki sebuah quote yang cukup terkenal yaitu vanity is my favorite sin. Kesombongan adalah dosa favoritnya karena ternyata film ini menggambarkan kehancuran seorang advokat ketika dia terjerumus dalam permainan iblis dan menjadi sombong dan menjadi korban manipulasi iblis.  Afridal juga menyatakan bahwa kejatuhan sang advokat terjadi karena tidak memiliki landasan moral yang kuat dan menjadi refleksi penting tentang peran devil’s advocate dalam mengungkap sisi tersembunyi dari sebuah argumen. Devil’s advocate dianggap sebagai sebuah metode untuk menguji sebuah teori atau argumen sebagai bagian dari kerangka berpikir dialektis. 

Membaca tulisan Afridal membuat saya sedikit memahami jika akun The Devil Advocate mungkin ingin mengambil peran Devil’s Advocate tetapi pemahamannya pun sudah salah sejak awal. Sangat baik memang untuk menguji terlebih dahulu sebuah paham yang dianggap “baru” baginya tetapi ketika menuduh kaum feminis Papua hanya sekedar FOMO tanpa bisa mempertanggungjawabkannya merupakan tuduhan yang tidak masuk akal. Perjuangan perempuan Papua tidak baru dimulai, perjuangan ini sudah mulai tercatat sejak tahun 1940-an yang dipimpin oleh Angganita Manufandu yang memimpin masyarakat melawan Jepang yang sedang menguasai Pulau Byak. Perempuan Papua kemudian turut ambil serta dalam segala perjuangan mempertahankan hak-haknya sebagai seorang manusia dan sebagai seorang Perempuan serta martabatnya sebagai perempuan Papua.  Perjuangan Angganita mungkin tidak dipahami olehnya sebagai perjuangan feminis karena bisa jadi admin TDA juga tidak memahami hubungan antara Patriarki dan Kapitalisme. 

Perjuangan perempuan di masyarakat sama halnya dengan perjuangan perempuan di media sosial yang hari-hari ini sangat dekat dengan kehidupan semua orang. Bagi perempuan Papua, media sosial bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga medan konflik kuasa narasi. Inilah yang saat ini sedang terjadi dengan akun The Devil Advocate dengan beberapa perempuan yang berkomentar di unggahannya. Tidak jarang beberapa komentar ditanggapi dengan merendahkan perempuan meski jelas apa yang sampaikan oleh admin keliru tetapi banyak didukung oleh akun-akun laki-laki lainnya yang sependapat dengan admin. Narasi perempuan selalu dikalahkan dengan dalil budaya orang Papua atau bahkan ajaran agama. Admin TDA juga menganggap perempuan memiliki standard baru yang dituduh tidak jelas dan diajarkan melalui media sosial seperti Tiktok. Tuduhan ini menjelaskan dengan baik bagaimana Perempuan tidak selalu diberi ruang yang adil ketika mengungkapkan pendapatnya, menceritakan lukanya, kehilangan, ketimpangan bahkan pembelajaran yang penting buatnya. 

Saya ingin meminjam tulisan dari salah satu postingan Aneta yang menyatakan “ Aktivisme perempuan di media sosial tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ia perlu dibangun secara kolektif, bukan untuk kejar viralitas, tetapi untuk saling menguatkan. Sebuah gerakan yang tidak hanya keras suaranya, tapi juga jernih visinya. Yang bukan hanya bicara, tetapi juga tumbuh bersama: saling belajar, saling jaga, dan saling dengar. Media sosial, dengan segala paradoksnya, bisa menjadi alat pemberdayaan jika diiringi dengan pendampingan dan pendidikan yang mencerahkan. Ruang digital harus terus diadvokasi agar tidak jadi hutan algoritma yang menyesatkan, tapi menjadi kebun wacana yang berpihak pada hidup”. 

Untuk alasan itulah saya membuatkan tulisan ini karena saya tidak memiliki kemampuan dan energi untuk melabraknya menggunakan video dan saya ingin lebih hati-hati dalam menyampaikan pendapat saya serta berkontribusi dalam kebun wacana yang dimaksud pada tulisan di atas. Kepada semua perempuan yang telah membela sesamanya di kolom komentar akun TDA saya mau sampaikan melalui tulisan ini bahwa Kalian tidak sendiri, saya lihat, saya paham dan saya sepakat dengan counter narasi kalian terhadap postingan TDA. Semoga kita bisa tumbuh dan bermekaran menjadi bunga Papua yang indah dan harum semerbak ~

Tentang Aneta

Aneta lahir sebagai respons atas kekosongan itu. Kami adalah media alternatif yang hadir untuk mendokumentasikan, menyuarakan, dan memperjuangkan pengalaman serta pengetahuan perempuan Papua dan kelompok marjinal. 

Kontak: +62 …

Visi

“Aneta menjadi ruang berpikir, berlawan, dan bertutur bagi perempuan dan kelompok marjinal untuk masa depan yang adil, setara, dan tanpa diskriminasi.”

Aneta @2025