• Home  
  • HANYA KARENA SEDIKIT DAN TAK TERLIHAT​
- Lingkungan & Hak Adat

HANYA KARENA SEDIKIT DAN TAK TERLIHAT​

Suara yang Tumbuh dari Hutan Perjalanan saya ke Kampung Kerema, Distrik Benuki, Kabupaten Mamberamo Raya terjadi di  awal tahun 2022. Saat itu, negara tengah merancang pemekaran provinsi di Papua menjadi  beberapa wilayah baru. Sebuah rencana besar yang pada permukaannya tampak menjanjikan.  Namun bagi kami yang hidup dan tumbuh dari tanah ini, pemekaran terasa seperti pintu […]

Suara yang Tumbuh dari Hutan

banuki

Perjalanan saya ke Kampung Kerema, Distrik Benuki, Kabupaten Mamberamo Raya terjadi di  awal tahun 2022. Saat itu, negara tengah merancang pemekaran provinsi di Papua menjadi  beberapa wilayah baru. Sebuah rencana besar yang pada permukaannya tampak menjanjikan.  Namun bagi kami yang hidup dan tumbuh dari tanah ini, pemekaran terasa seperti pintu masuk  bagi investor untuk menyingkirkan masyarakat adat dari ruang hidupnya dan menjadikan tanah  hanya sebagai objek komoditas. 

Pemekaran bukan sekadar soal administrasi. Ia membawa logika baru; logika yang melihat tanah  tak tersentuh sebagai lahan mati yang “belum dikelola,” bukan sebagai bagian dari ekosistem  yang dijaga dan dihormati oleh masyarakat adat. Di balik kata “pembangunan,” seringkali  tersembunyi penghancuran. Bukan karena alat berat, tapi karena cara berpikir yang menganggap  kebijaksanaan menjaga alam sebagai kebodohan.

Perjalanan ke Jantung Mamberamo

Dari Jayapura, saya memulai perjalanan panjang: pesawat ke Biak, kapal cepat ke Serui, lalu  speedboat bermesin dua menyusuri pulau-pulau hingga memasuki muara Mamberamo yang  terkenal ganas dan banyak memakan korban. 

Kami menyusuri sungai yang bercabang seperti labirin. Airnya keruh, hutan rimbanya pekat, dan  batang-batang kayu besar hanyut terbawa arus Mamberamo yang keras dan deras. Ini bukan jalur  mudah. Tapi setelah berjam-jam perjalanan, saya tiba di Kampung Kerema, kampung kecil yang  sedang terbelah oleh konflik internal. 

Sebagian masyarakat ingin menerima investor demi akses dan fasilitas. Sebagian lagi menolak  karena pengalaman pahit masa lalu: perusahaan kayu yang mengambil kayu dengan rakus,  melebihi janji dan kontrak, merusak tempat hidup dan masa depan mereka. Meninggalkan hutan  rusak yang butuh ratusan tahun untuk pulih kembali.

Suara Perlawanan yang Tak Padam

Dalam diskusi dengan masyarakat, seorang mama memandang saya dengan penuh keyakinan  dan berkata: 

“Anak, kemarin anak datang mama kira anak dari perusahaan. Mama sudah bilang harus cek  kalau dari perusahaan harus suruh langsung saja pulang karena mama dong su tra mau ada  perusahaan lagi di sini.”

 

Kalimat itu tak menyakitkan saya. Justru membuat saya senang bahwa tanah ini masih dijaga,  bahwa ada suara yang masih hidup meski kerap dibungkam. Anak-anak muda pun bersuara sama, menolak dan ingin menjaga. 

Momen kedua yang mengguncang hati saya adalah saat mereka menceritakan pengalaman  bekerja di perusahaan kayu dimana mereka dianggap malas karena salah satu petingginya pernah  berkata: “Orang Papua lebih suka makan hingga berkeringat daripada bekerja hingga  berkeringat.” 

Pernyataan yang meskipun telah tiga tahun lalu saya dengar dari seorang pemuda adat berumur  20 tahun dari Kampung Kerema, hingga kini membekas dan tak terlupa. Saya tahu persis, itu  bukanlah indikator kemalasan, itu adalah budaya. 

Itu papeda panas, sagu, ikan bakar. Itu kehangatan makanan dan keluarga. Itu tubuh yang  mengenal tanah, mengenal rasa. 

Tapi mereka yang datang tanpa kehendak untuk mengenal justru menuduh, menghakimi, dan  mengejek. Menilai budaya dengan cara seperti itu adalah kekerasan. Menuduh kami malas hanya  karena kami makan dengan rasa adalah bentuk pengabaian terhadap nilai dan kehormatan.

Kesadaran untuk Melawan

Karena itulah, Hari Internasional Masyarakat Adat ini adalah momen penting untuk  mengingatkan diri kita dan dunia: Kita harus selalu memilih sadar. Sadar bahwa tanah bukan  komoditas, tetapi identitas. Sadar bahwa pembangunan yang merampas tanah bukanlah  kemajuan. Sadar bahwa memecah perspektif adalah langkah pertama untuk menguasai, dan kita  tidak boleh membiarkannya terjadi lagi. 

Siapa yang tak tahu strategi para biadab 

Mari kita pecah negeri kaya dengan penduduk sedikit ini 

Daerah penuh orang hitam, keriting, bodoh 

Masyarakat yang tertinggal, terbelakang & terisolir 

Mari kita bagi-bagi negeri ini, 

Biarkan uang meraja, memperbudak para raja negeri ini 

Mari kita belah menjadi banyak bagian, biar kita bisa merajalela & mendapatkan bagian Mari kita perkecil kuasa mereka, biar kita bebas bergerilya di hutan 

Mari kita buat mereka saling melawan, biar kita terlihat seperti kawan 

Mari kita ambil yang harusnya terlindung, 

Mencuri yang harusnya tersimpan rapi, 

Merusak yang selama ini terjaga aman 

Sayang mereka (dan sebagian kita juga lupa), 

Setiap tanah diberikan kepada penguasa & penjaganya yang abadi, 

Setiap laut, sungai, udara diberikan kepada mereka

Yang juga diperlengkapi dengan hikmat & kekuatan 

Untuk menguasai, menjaga, menyimpan yang harusnya terus tersimpan 

Tanah selalu mengenal tuan & nyonyanya 

Mengenal dengan baik, dalam & sayang 

Kepada mereka, para pemilik, penjaga dan pemilik hak, 

Tanah menjadi berkat dan perlindungan. 

Tapi bagi mereka yang mengambil tanpa izin, 

Tanah dapat berubah seketika menjadi petaka tanpa tempat bersembunyi. 

Alam tidak dicipta untuk dikeruk hingga habis, 

Kepada yang mengeruk dengan serakah, 

Alam akan mengamuk dengan penuh amarah

 

Jadi jangan lupa, 

Bukan tanpa alasan Tuhan memberi sangat banyak kepada yang sedikit ini. Kepada yang sedikit, Tuhan memberi hikmat, wibawa, kebijaksanaan, kebajikan Dan kekuatan untuk terus hidup berdampingan dalam harmoni dengan alam. 

Itu kenapa sedikit tidak berarti lemah. 

Jangan salah artikan kebaikan para manusia tanah ini dengan kebodohan. 

Berhati-hatilah. Di sudut-sudut tanah ini, mereka yang muda. 

Yang namanya tidak pernah terdengar. 

Sedang bangkit, mengumpulkan kekuatan untuk melawan. 

Mereka mungkin terisolir & jauh, 

Tapi mereka tidak buta. Tidak tuli. Dan jelas-jelas tidak bodoh. 

Hanya karena tidak terlihat, bukan berarti tidak berbahaya.

***

 

Penutup

Puisi ini saya tulis 20 Januari 2022 sebagai refleksi perjalanan keliling tanah Papua sepanjang  2020-2022 dengan puncaknya saat mengunjungi kampung Kerema pada Januari 2022. Saya  persembahkan puisi ini untuk semua masyarakat adat di tanah Papua. Untuk mama yang  mengajar. Untuk bapa-bapa yang mempertahankan. Untuk anak-anak muda yang belajar, sadar  dan melawan. Untuk tanah yang dijaga dengan cinta. Untuk budaya yang sering disalahpahami  tapi tak pernah padam.

Untuk semua masyarakat adat di seluruh dunia: suara kita tidak akan diam.

Usilina Epa, 6 Agustus 2025

Tentang Aneta

Aneta lahir sebagai respons atas kekosongan itu. Kami adalah media alternatif yang hadir untuk mendokumentasikan, menyuarakan, dan memperjuangkan pengalaman serta pengetahuan perempuan Papua dan kelompok marjinal. 

Kontak: +62 …

Visi

“Aneta menjadi ruang berpikir, berlawan, dan bertutur bagi perempuan dan kelompok marjinal untuk masa depan yang adil, setara, dan tanpa diskriminasi.”

Aneta @2025