Oleh : Godlief Muabuay
Sebagai perempuan Papua, kegelisahan ini lahir dari pengalaman hidup sehari-hari menyaksikan anak-anak tumbuh di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Perubahan itu masuk ke rumah-rumah, ke pola pengasuhan, ke cara anak berbicara, bersikap, dan memandang dunia. Kegelisahan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan sebagai suara reflektif seorang perempuan yang melihat, merasakan, dan memikirkan masa depan anak-anak Papua.
Dalam praktik pengasuhan sehari-hari, masih banyak orang dewasa yang membenarkan kesalahan anak dengan alasan usia. Ungkapan seperti “Dia hanya anak-anak, dan belum mengerti apapun” sering digunakan sebagai pembelaan yang dianggap wajar.
Namun pembenaran ini secara perlahan menormalisasi pembiaran, membentuk karakter anak tanpa arah dan tanpa batas perilaku yang jelas. Di banyak keluarga, pembiaran ini bukan karena ketidakpedulian, melainkan karena kelelahan hidup, tekanan ekonomi, dan beratnya peran yang dipikul perempuan.
Ketika anak menunjukkan perilaku menyimpang seperti membangkang, berkata kasar, berbohong, atau menyakiti orang lain, kesalahan tersebut kerap dianggap tidak serius karena anak dinilai belum mengerti apa-apa. Akibatnya, anak tidak diarahkan dan tidak diperkenalkan pada konsekuensi. Padahal masa kanak-kanak merupakan fase krusial untuk menanamkan nilai tanggung jawab, empati, dan batas perilaku. Banyak ibu sebenarnya menyadari hal ini, namun sering kali tidak memiliki ruang, dukungan, atau kekuatan untuk bertindak lebih tegas.Anak memang belum dewasa secara emosional, tetapi hal tersebut tidak berarti anak bebas dari tanggung jawab. Ketika setiap kesalahan selalu dimaklumi tanpa penjelasan dan konsekuensi yang jelas, anak belajar bahwa tindakannya tidak menimbulkan dampak. Pola ini perlahan membentuk karakter anak yang merasa selalu benar dan sulit menerima koreksi, sebuah karakter yang kelak menyulitkan dirinya sendiri dan lingkungannya.
Dalam realitas sehari-hari, sebagian perempuan Papua yang menjadi ibu memang masih meluapkan emosi dengan kata-kata kasar kepada anak, terutama ketika lelah, marah, atau tertekan oleh situasi hidup. Namun penting untuk ditegaskan bahwa tidak semua ibu Papua bersikap demikian. Banyak perempuan yang berusaha mendidik anak dengan kesabaran, kelembutan, dan kesadaran penuh akan pentingnya bahasa dan sikap. Keragaman ini perlu dipahami agar perempuan Papua tidak diseragamkan atau disalahkan secara sepihak.Fenomena anak berkata kasar lalu ditertawakan oleh orang dewasa juga kerap terjadi. Kata-kata kasar dianggap lucu atau menggemaskan. Padahal dalam perspektif pendidikan, respons ini justru menjadi penguatan perilaku negatif. Anak belajar bahwa memaki adalah hal yang wajar dan diterima. Banyak perempuan baru menyadari dampaknya ketika anak mulai meniru secara utuh apa yang ia lihat dan dengar sejak kecil.Tidak sedikit pula orang tua yang tanpa sadar menjadi contoh perilaku negatif. Bahasa kasar yang digunakan di rumah, baik saat marah maupun bercanda, direkam oleh anak sebagai sesuatu yang normal. Anak tidak belajar dari nasihat panjang, melainkan dari contoh nyata yang hadir setiap hari. Dalam konteks ini, perempuan sering memikul beban rasa bersalah yang besar karena merasa menjadi pihak yang paling dekat dengan anak.Selain pola asuh di rumah, lingkungan bermain juga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku anak. Anak-anak Papua kini tumbuh dalam lingkungan sosial yang semakin kompleks, di mana ejekan, kekerasan verbal, dan perilaku agresif sering dianggap biasa. Tanpa pendampingan orang dewasa, lingkungan seperti ini dengan mudah membentuk cara bicara dan sikap anak.
Lingkungan yang tidak terawasi akan memperkuat perilaku yang telah dibentuk di rumah. Anak yang terbiasa dibenarkan tanpa batas akan semakin menguatkan sikapnya ketika berada di lingkungan yang memberikan validasi serupa. Sebaliknya, anak yang tidak mendapatkan arahan di rumah dan juga tidak mendapatkan koreksi di lingkungan sosial akan tumbuh tanpa referensi perilaku yang sehat.Dalam konteks masa kini, pengaruh gawai atau handphone tidak dapat diabaikan. Anak-anak zaman dulu tumbuh dengan interaksi langsung, batas bermain yang jelas, dan kontrol orang dewasa yang lebih kuat. Sementara anak-anak sekarang hidup berdampingan dengan layar sejak usia sangat dini, sering kali tanpa pendampingan yang memadai. Banyak ibu berada dalam dilema antara mengikuti tuntutan zaman dan menjaga nilai-nilai anak.
Apa yang anak lihat di layar akan membentuk cara berpikir dan bersikapnya. Konten yang menormalisasi bahasa kasar, ejekan, kekerasan verbal, sikap meremehkan, dan perilaku impulsif tersebar luas di media sosial dan video pendek. Anak menyerap semua itu melalui peniruan, sementara orang tua sering kali tidak menyadari seberapa dalam pengaruh tersebut bekerja.Ketika gawai dibiarkan menjadi guru utama anak, batas antara benar dan salah menjadi kabur. Anak tidak lagi belajar nilai dari orang tua atau lingkungan adat, melainkan dari algoritma. Generasi muda Papua tumbuh dalam arus informasi yang cepat, instan, dan minim refleksi, sementara banyak keluarga belum sepenuhnya siap mendampingi perubahan ini.
Selain itu, kondisi hubungan dalam rumah tangga juga sangat memengaruhi perkembangan anak. Konflik berkepanjangan, pertengkaran terbuka, dan kekerasan verbal menciptakan rumah yang tidak aman secara emosional. Anak yang tumbuh dalam kondisi ini sering mencari pelarian di luar rumah, sebuah kenyataan yang tercermin dalam berbagai kasus remaja yang terlibat perilaku berisiko.
Dalam praktik pengasuhan, peran ayah juga sering kali minim. Banyak ayah sibuk bekerja dan menyerahkan sepenuhnya pengasuhan kepada istri. Ketika anak bermasalah, ibu menjadi pihak yang paling sering disalahkan. Padahal pengasuhan adalah tanggung jawab bersama. Anak membutuhkan kehadiran ayah sebagai figur teladan, penegas batas, dan sumber rasa aman.
Kasih sayang sering kali disalahartikan sebagai membiarkan. Padahal kasih sayang yang sehat justru mengajarkan batas, ketegasan, konsistensi, dan tanggung jawab. Anak tidak membutuhkan kekerasan, tetapi membutuhkan kehadiran, arahan, dan contoh yang baik dari kedua orang tua.
Didikan, lingkungan, dan era digital yang tidak dikelola dengan bijak akan melahirkan krisis anak di masa depan. Apa yang dibiarkan hari ini akan tumbuh menjadi karakter esok hari. Setiap pembiaran, setiap caci maki yang terucap tanpa disadari, setiap konflik rumah tangga yang tidak diselesaikan, setiap gawai yang dibiarkan tanpa pendampingan, serta setiap lingkungan yang tidak dijaga akan membentuk cara anak berpikir dan bersikap. Kegelisahan ini adalah suara perempuan Papua yang berharap anak-anaknya tumbuh lebih kuat, lebih berempati, dan lebih terlindungi, agar masa depan tidak dibentuk oleh luka yang seharusnya bisa dicegah sejak hari ini.

